Sabtu, 25 Desember 2010

Dekil Jiwa Berdarah

Berkarat
Berkarat, diriku ini hitam berkarat
Terlaknat, ku kencani malaikat maut
Terasing dalam kumpulanku
Terhanyut dalam khayalanku

Tuhan .. Aku .. Ingin .. Mati !

Akankah datang sepasang tangan
Merangkulku terbang pulang
Akankah datang seorang teman
Menuntunku menuju cahaya

Berkarat, diriku ini hitam berkarat
Terlaknat, kan kutunggu datangnya maut

Lelah tubuh ini, Sesak raga ini

Lelahnya sisi kecil hati
Ikuti alur hidupku mencoba melawan dosa yang terlahir
Luaskan ruang bernafas

Terlaknat.. tuhan aku ingin mati
Kan kutunggu datangnya maut


                                                        Terlilit asa

Terjepit diam terpaku rapuh tanpa terasa
Aku terjebak dalam ringkihnya tubuhku ini
Aku tersudut di kehampaan ruang dan waktu

Worthless.. Scumbag.. Worthless

Aku terlilit tak bisa lagi kugapai angan
Rasa sesal yang tak terhingga

Semakin sesat semakin tak terkendali
Semakin diri ini kehilangan arti

Muak lelah ku gusar terhempas
Hitam .. kelam
Derita ini akan terus kukecap dalam kesendirianku



Hilang

Semu arah hiasi langkahku
Tiada lelah habiskan sang waktu
Sinar untuk terangi rautku
Cairkan darahku yang lama membeku

Bisu terus pandangi
Coba tuk membaca maksud hati
Diam aku nikmati
Rapuh dan ringkih untuk berdiri
Kuhampiri sebuah mimpi
Perih luka terus dekati

Hilang … Lepas kendali

Berharap tersisa sebuah ruang tempat di mana tenangkan jiwa
Berharap tersisa sebuah bintang tempat berdoa tanpa suara

Peluk aku Sang Cipta
Sambut aku Sang Cipta
Beri aku teman .. Beri aku angan

Bisu Tuli Buta

Seiring jalan yang terhampar di muka ku kini...gelap
Belatung menggerogoti otak perlahan menembus pikiran
Hati terbakar menghanguskan asa
Maafkan diri ini tak lagi yang semestinya berjalan
Jalanku carut marut tersesat di tempat penuh tipu daya
Air mata membeku karena dinginnya kenyataan
Hilang sudah yang seharusnya kulakukan
Hitam jalanku membunuh tiap detik waktu yang kujalani
Tercaci termaki keadaan yang makin hina dan bodoh
Antara hidup dan mati berdiri di tengah kesombongan suasana
Mencoba menghidupkan cahaya yang mulai redup namun terjungkal kemudian terdiam tak mengerti harus berbuat apa lagi
Mengharap kenyataan berbelas kasih dengah merubah keadaan yang semestinya dan sewajarnya namun malah menciptakan jurang kekecewaan yang begitu dalam....
Mencoba bersyukur..mencoba bersabar...tak pernah ada batasnya kata sang bijak
Namun diri ini tak mengerti harus ke mana lagi melangkahkan arah..bengkok dan tak tentu arah jalur hidup
Kebosanan terbungkus sabar.....kekecewaan terbungkus syukur....
Dan aku merasa di sudutkan kenyataan
Menuntut diriku dan tak mampu ku melawan...lemah seiring waktu semakin carut marut dri ini membawa kenyataan.
Kebodohan tak kunjung usai....................
Disinipun tetap terbakar oleh nafsu keakuan
Disinipun hati dingin oleh kepongahan diri2 yang mengaku berjiwa
Disinipun otak menjadi busuk oleh serangan nafsu ego
Semakin samar saja jalanan yang kulalui...bermakna kemudian hilang